Aku bertaruh dengan kehidupan
Berperang dalam keberingasan
Berlari dalam hempasan angan
Tarian yang buatku berdarah
Nyanyian yang buatku tak berdaya
Tertidur lagi
Dalam alunan mimpi
Bersama sang dewi
Dewi Mimpi
Membawaku ke alam nan sunyi
Tinggalkan hidup tak lagi sepi
Tapi hanya sementara
Nanti kukan hidup lagi
Menapaki pagi yang berarti
dan hari yang menanti
Mei 2009
Tuesday, September 22, 2009
Papan Tulis
Serpihan kapur, menempel di papan tulis
tak terhapus di terpa angin
menempel bagai teriris
wahai guru
tak tahukah dirimu
serpihan kapurmu ditiru
dari papan tulis itu
meluncur ke buku
tak terhapus di terpa angin
menempel bagai teriris
wahai guru
tak tahukah dirimu
serpihan kapurmu ditiru
dari papan tulis itu
meluncur ke buku
Fiuh...
Siang ini aku lelah sekali
Tak terasa pagi telah berlari
Cepat sekali
Siang yang begitu lama
Seperti bekicot yang menggeliat diatas dinding berlumut
Lemas dan pegal
rasanya aku ingin lari dari tubuhku sendiri
atau menceburkan diri di Tamansari
Sore yang teduh kunanti
Namun tak kudapatkan...
Sore yang teduh jadi impian...
Fiuh...
Tak terasa pagi telah berlari
Cepat sekali
Siang yang begitu lama
Seperti bekicot yang menggeliat diatas dinding berlumut
Lemas dan pegal
rasanya aku ingin lari dari tubuhku sendiri
atau menceburkan diri di Tamansari
Sore yang teduh kunanti
Namun tak kudapatkan...
Sore yang teduh jadi impian...
Fiuh...
Di Ambang Kegelapan
Tempat apakah ini?
Sepi menusuk di hati
bagai sepucuk duri
Temanku ini
bukan manusia sayang...
hanya aliran belaka
berlari dari kawat ke kawat
terpercik ke mata
heran ku disini
bergambar melayang di udara
terpercik ke mata
terserap sampai syaraf
Dingin, sayang...
Gelap, sayang...
Semu, sayang...
Nikmat, sayang...
21 Juli 2009
Sepi menusuk di hati
bagai sepucuk duri
Temanku ini
bukan manusia sayang...
hanya aliran belaka
berlari dari kawat ke kawat
terpercik ke mata
heran ku disini
bergambar melayang di udara
terpercik ke mata
terserap sampai syaraf
Dingin, sayang...
Gelap, sayang...
Semu, sayang...
Nikmat, sayang...
21 Juli 2009
Lepas Sudah
Akhirnya kau terlepas dari jeruji hatiku
Akhirnya aku melihatmu berlari
Tapi sebenarnya aku tak mau kehilanganmu
Oleh karena itu, tak kubukakan gerbang hatiku ini
Jika dikau mati didalamnya
Aku tak bisa menemukanmu lagi
Kecuali kalau kau berlari
Seperti kuda betina
Menjauh dari padang gurun hatiku ini
Yang bukan menjadi tempatmu
Lepas sudah dikau
Berlarilah bersama angin
Berlarilah ke oasis tempatmu berasal
tidakkah kau tahu, aku bukan fatamorgana
Lebih baik kau berlari
Sebelum kakimu yang indah dan kuat itu
Tersengat kalajengking
Dan engkau enyah daripadaku
20 Agustus 2009
Akhirnya aku melihatmu berlari
Tapi sebenarnya aku tak mau kehilanganmu
Oleh karena itu, tak kubukakan gerbang hatiku ini
Jika dikau mati didalamnya
Aku tak bisa menemukanmu lagi
Kecuali kalau kau berlari
Seperti kuda betina
Menjauh dari padang gurun hatiku ini
Yang bukan menjadi tempatmu
Lepas sudah dikau
Berlarilah bersama angin
Berlarilah ke oasis tempatmu berasal
tidakkah kau tahu, aku bukan fatamorgana
Lebih baik kau berlari
Sebelum kakimu yang indah dan kuat itu
Tersengat kalajengking
Dan engkau enyah daripadaku
20 Agustus 2009
Monday, September 21, 2009
Friday, September 18, 2009
Panggung
Aku berjalan
Ditengah pekik keramaian
Aku di depan
menghadap berjuta nisan
Nisan kok berteriak?
Ah... Masa bodoh
Mulutku mulai menari
Mendendangkan lagu
Yang bagiku sunyi
Tanganku mulai bercumbu
Dengan gitar lusuhku
Memang tanganku ini
Suka menggerayangi
Gitar yang seksi
Meski, jari kasarku mulai merobeknya
Ah... tak peduli
Panas dingin tubuhku ini
kakiku yang berdiri diatas vibrator
Ah... vibrator
Getaran yang nikmat
dibawah sana
batu nisan tadi saling bertabrakan
menimbulkan suara-suara
yang buatku merasa sendiri, namun pasti
Selamat jalan panggung
Dan Getaran itu memudar...
Ditengah pekik keramaian
Aku di depan
menghadap berjuta nisan
Nisan kok berteriak?
Ah... Masa bodoh
Mulutku mulai menari
Mendendangkan lagu
Yang bagiku sunyi
Tanganku mulai bercumbu
Dengan gitar lusuhku
Memang tanganku ini
Suka menggerayangi
Gitar yang seksi
Meski, jari kasarku mulai merobeknya
Ah... tak peduli
Panas dingin tubuhku ini
kakiku yang berdiri diatas vibrator
Ah... vibrator
Getaran yang nikmat
dibawah sana
batu nisan tadi saling bertabrakan
menimbulkan suara-suara
yang buatku merasa sendiri, namun pasti
Selamat jalan panggung
Dan Getaran itu memudar...
Bangkai
Kemarin aku melihat
bangkai tikus
bangkai ular
bangkai ayam
bangkai kucing
bangkai manusia
bangkai manusia
bangkai manusia
bangkai manusia lagi
bangkai dan manusia
manusia dan bangkai
bangkai tikus
bangkai ular
bangkai ayam
bangkai kucing
bangkai manusia
bangkai manusia
bangkai manusia
bangkai manusia lagi
bangkai dan manusia
manusia dan bangkai
Tembok
Abu-abu
Nan kelabu
Penuhi mataku
Terduduk dan lesu
Menunggu suatu makna
Namun tak kunjung tiba
Yang kulihat hanyalah kelabu
Memudar di tembok itu
Berlalu dan berlalu
Bagaikan debu
Sebuah rindu
Tuk bertemu
Dan beradu
Nan kelabu
Penuhi mataku
Terduduk dan lesu
Menunggu suatu makna
Namun tak kunjung tiba
Yang kulihat hanyalah kelabu
Memudar di tembok itu
Berlalu dan berlalu
Bagaikan debu
Sebuah rindu
Tuk bertemu
Dan beradu
Akhir...
Sepertinya tak ada lagi kau di hatiku
Aku harus istirahat dulu
Sebelum yang lain datang lagi
Aku tak mau menunggu
Hanya mau merasakan angin lalu
Buatku sedikit malu
Lalu kubuang mukaku
Akhirku padamu
Akhirmu padaku
Aku harus istirahat dulu
Sebelum yang lain datang lagi
Aku tak mau menunggu
Hanya mau merasakan angin lalu
Buatku sedikit malu
Lalu kubuang mukaku
Akhirku padamu
Akhirmu padaku
Wednesday, September 16, 2009
Hari Spesialkah Ini?
9-9-9
Aku bertanya sejak kemarin
Akankah besok hari yang spesial?
Kuharap... Tapi kelihatannya tidak
Tidak, jika aku tetap begini
Tapi mungkin masih akan seperti ini
Apalah artinya hari
Buat apa manusia menghitung tanggal
Tiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, masa
Ah waktu...
Hanyalah sebuah indikator
keterbatasan manusia
Aku mencari spesialku
Akankah kutemukan hari ini?
Yang kutemukan hanya secarik rutinitas
Mendengar, tak peduli di dengar
Melihat, tak peduli dilihat
Materi? Uangkah? Barangkah?
Kado yang kutunggukah?
Ternyata tak mengetuk pintu
Hari ini? Tanyaku
Tak ada apa-apa
Seorang yang kusayang pun tak peduli
Padaku maupun pada hari ini
Spesial? Tanyaku
Memangnya martabak?
Mungkin terjadi saat subuh
Waktu diriku dalam lelapku
Ketika waktu berjalan cepat...
Namun semua seperti slow motion
Apanya yang spesial?
Bahkan aku tak ingat bermimpi
Mimpi spesial? Tanyaku
Ah... bukan kenyataan
Bersambung
Aku bertanya sejak kemarin
Akankah besok hari yang spesial?
Kuharap... Tapi kelihatannya tidak
Tidak, jika aku tetap begini
Tapi mungkin masih akan seperti ini
Apalah artinya hari
Buat apa manusia menghitung tanggal
Tiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, masa
Ah waktu...
Hanyalah sebuah indikator
keterbatasan manusia
Aku mencari spesialku
Akankah kutemukan hari ini?
Yang kutemukan hanya secarik rutinitas
Mendengar, tak peduli di dengar
Melihat, tak peduli dilihat
Materi? Uangkah? Barangkah?
Kado yang kutunggukah?
Ternyata tak mengetuk pintu
Hari ini? Tanyaku
Tak ada apa-apa
Seorang yang kusayang pun tak peduli
Padaku maupun pada hari ini
Spesial? Tanyaku
Memangnya martabak?
Mungkin terjadi saat subuh
Waktu diriku dalam lelapku
Ketika waktu berjalan cepat...
Namun semua seperti slow motion
Apanya yang spesial?
Bahkan aku tak ingat bermimpi
Mimpi spesial? Tanyaku
Ah... bukan kenyataan
Bersambung
Malam Ini
Malam ini aku tak sendiri sayang...
Tersayangku ada dibelakangku, meski kaku
Wahai motor tanpa lampuku
Akankah kau buat aku dekat dengannya
Mungkin... pikirku
Peluang cintaku hanya satu banding dua
Apa dayaku dibanding mereka...
Berparas tampan, berdompet tebal
Mungkin karena orang-tua mereka...
Namun mengapa ia tertunduk lesu
Bahkan meneteskan air mata
Air mata yang mengalir dari paras ayu nya
Meski tak cocok dengan wajahnya yang seharusnya ceria
Ya... Seharusnya ia bahagia...
Barsamaku dalam dunia
Inginku sih begitu...
Motorku mulai capai
Aku turunkan dia, di depan pintunya
Sepercik senyum dari wajahnya
Akupun bertanya
Sejak kapan aku suka padanya?
Purwomartani, 12 September 2009
Tersayangku ada dibelakangku, meski kaku
Wahai motor tanpa lampuku
Akankah kau buat aku dekat dengannya
Mungkin... pikirku
Peluang cintaku hanya satu banding dua
Apa dayaku dibanding mereka...
Berparas tampan, berdompet tebal
Mungkin karena orang-tua mereka...
Namun mengapa ia tertunduk lesu
Bahkan meneteskan air mata
Air mata yang mengalir dari paras ayu nya
Meski tak cocok dengan wajahnya yang seharusnya ceria
Ya... Seharusnya ia bahagia...
Barsamaku dalam dunia
Inginku sih begitu...
Motorku mulai capai
Aku turunkan dia, di depan pintunya
Sepercik senyum dari wajahnya
Akupun bertanya
Sejak kapan aku suka padanya?
Purwomartani, 12 September 2009
Sadar
Mengapa ini terjadi padaku?
Percuma kumemandangmu
Bahkan dengan tatapan kosong sekalipun
Hatiku terlalu lemah untuk memikul lagi
Perasaanku padamu
Walupun kau tak peduli padaku
Pengorbananku hanya kau anggap angin lalu
Kau bahkan masih memikirkan dia yang mungkin telah mempermainkanmu
Tak sebersitpun ada aku dalam pikirmu
Kau teteskan air matamu untuk dia, aku pun tak suka kau bersedih
Namun apa daya...
Tak setitikpun pedulimu padaku
Hatiku mulai merajami dadaku
Wah-wah
Mungkin aku harus melupakanmu
manganggapmu sebagai sahabat?
Maaf, aku tak bisa sayang
Karena kau pun tak mau tahu
Tentang kebutuhanku
Bahkan tentang diriku
Aku buka bajuku dan tertidur...
Kamar, 12 September 2009
Percuma kumemandangmu
Bahkan dengan tatapan kosong sekalipun
Hatiku terlalu lemah untuk memikul lagi
Perasaanku padamu
Walupun kau tak peduli padaku
Pengorbananku hanya kau anggap angin lalu
Kau bahkan masih memikirkan dia yang mungkin telah mempermainkanmu
Tak sebersitpun ada aku dalam pikirmu
Kau teteskan air matamu untuk dia, aku pun tak suka kau bersedih
Namun apa daya...
Tak setitikpun pedulimu padaku
Hatiku mulai merajami dadaku
Wah-wah
Mungkin aku harus melupakanmu
manganggapmu sebagai sahabat?
Maaf, aku tak bisa sayang
Karena kau pun tak mau tahu
Tentang kebutuhanku
Bahkan tentang diriku
Aku buka bajuku dan tertidur...
Kamar, 12 September 2009
Puisi Jam 12 Malam
Sekarang sudah bukan jamannya
Seorang pria berpuisi
Mencari arti dan bermimpi
Sekarang jarang
Wanita suka puisi
Mereka anggap sia-sia pikirku
kata-kata belaka
indah tak mengena
Aku bingung
Hanya bisa bermain kata-kata
Namun aku sadar
Ia pun tak peduli pada ku, maupun puisiku
Siapa bilang pria tak boleh berpuisi?
Siapa bilang pria tak pantas bersyair?
Siapa bilang pria berperasaan dangkal?
Siapa bilang pria tak boleh menangis?
Aku heran dan hanya bisa bernyanyi
Sambil memetik gitar mengalunkan melodi dan harmoni
Dunia sudah berubah nak...
Kalau tak punya uang, tak usahlah kau bercita
bahkan berharap untuk mencinta
Aku ingin mencinta...
Sayang tak dicinta...
Mengapa? Mengapa dia?
Mengapa harus dia? Mengapa hanya dia?
Ah... Masa bodoh
Aku melanjutkan puisi ini
Puisi yang mungkin tak berarti baginya
Puisi yang bahkan tak akan menyentuh bulu hatinya
karena aku bukanlah lelaki yang ia impikan
meski aku belum bilang bahwa aku mencintainya
setulus hati merpatiku...
semurni air dalam gelas bening di mejaku
Kadang aku berpikir
Segala yang kuberikan padanya
sia-sia tanpa guna
Pergilah ia pada kekasihnya
Namun bukan aku sayang
Air mataku mulai meleleh
terjawab sudah
bahwa aku adalah...
Seorang pria berpuisi
23.59WIB, Kamar, 12 September 2009
Seorang pria berpuisi
Mencari arti dan bermimpi
Sekarang jarang
Wanita suka puisi
Mereka anggap sia-sia pikirku
kata-kata belaka
indah tak mengena
Aku bingung
Hanya bisa bermain kata-kata
Namun aku sadar
Ia pun tak peduli pada ku, maupun puisiku
Siapa bilang pria tak boleh berpuisi?
Siapa bilang pria tak pantas bersyair?
Siapa bilang pria berperasaan dangkal?
Siapa bilang pria tak boleh menangis?
Aku heran dan hanya bisa bernyanyi
Sambil memetik gitar mengalunkan melodi dan harmoni
Dunia sudah berubah nak...
Kalau tak punya uang, tak usahlah kau bercita
bahkan berharap untuk mencinta
Aku ingin mencinta...
Sayang tak dicinta...
Mengapa? Mengapa dia?
Mengapa harus dia? Mengapa hanya dia?
Ah... Masa bodoh
Aku melanjutkan puisi ini
Puisi yang mungkin tak berarti baginya
Puisi yang bahkan tak akan menyentuh bulu hatinya
karena aku bukanlah lelaki yang ia impikan
meski aku belum bilang bahwa aku mencintainya
setulus hati merpatiku...
semurni air dalam gelas bening di mejaku
Kadang aku berpikir
Segala yang kuberikan padanya
sia-sia tanpa guna
Pergilah ia pada kekasihnya
Namun bukan aku sayang
Air mataku mulai meleleh
terjawab sudah
bahwa aku adalah...
Seorang pria berpuisi
23.59WIB, Kamar, 12 September 2009
...
aku bukan seorang anak laki-laki lagi
aku bukan seorang kecil
bersepeda di jalan kecil di sampingmu
aku selalu ingat sepeda birumu, dengan keranjang di depannya
selalu berada di dekat sepeda merahku
mungkin kau sudah lupa akan diriku
tiba-tiba bayangmu melesat dalam benakku
rambut seperti ombak itu menerjang
menghidupkan memoriku yang sedang tertidur lelap
getarkan syaraf hatiku
dan mengapa aku rindu padamu?
mungkinkah pada saat ini kita sedang saling merindu?
mustahil... pikirku
aku selalu ingat saat aku bernyanyi
suatu saat aku lebih baik melamarmu
hahahahaha...
air mata kecilku meleleh
dalam lemahku
karena luguku
maaf... sang waktu mendorongku
jauh mencangkuli pikirku dan memendam memoriku
ingatkah bahwa dulu aku sering bermain di rumahmu?
berlari di teras rumahmu, bercanda dan memanggil namamu?
sungguh masa yang indah
sayang telah berlalu
diterpa angin nan syahdu
dan warna-warni
yang kita susun dulu
terhempas...
bagai debu...
terbang di atas pantai yang membiru
temanku
tak tahukah dirimu
kemarin aku
berlalu didepan rumahmu
bermain dalam memori masa kecilku
sayang kita tak kunjung bertemu...
Judul asli: "Buat Raras"
Bantul, 13 September 2009
00.31 WIB
aku bukan seorang kecil
bersepeda di jalan kecil di sampingmu
aku selalu ingat sepeda birumu, dengan keranjang di depannya
selalu berada di dekat sepeda merahku
mungkin kau sudah lupa akan diriku
tiba-tiba bayangmu melesat dalam benakku
rambut seperti ombak itu menerjang
menghidupkan memoriku yang sedang tertidur lelap
getarkan syaraf hatiku
dan mengapa aku rindu padamu?
mungkinkah pada saat ini kita sedang saling merindu?
mustahil... pikirku
aku selalu ingat saat aku bernyanyi
suatu saat aku lebih baik melamarmu
hahahahaha...
air mata kecilku meleleh
dalam lemahku
karena luguku
maaf... sang waktu mendorongku
jauh mencangkuli pikirku dan memendam memoriku
ingatkah bahwa dulu aku sering bermain di rumahmu?
berlari di teras rumahmu, bercanda dan memanggil namamu?
sungguh masa yang indah
sayang telah berlalu
diterpa angin nan syahdu
dan warna-warni
yang kita susun dulu
terhempas...
bagai debu...
terbang di atas pantai yang membiru
temanku
tak tahukah dirimu
kemarin aku
berlalu didepan rumahmu
bermain dalam memori masa kecilku
sayang kita tak kunjung bertemu...
Judul asli: "Buat Raras"
Bantul, 13 September 2009
00.31 WIB
Mahal
Jika ada yang berkata
Bahwa cinta
Dapat diukur oleh uang
Maka kamu terlalu mahal bagiku
13 September 2009, 00.00WIB
Bahwa cinta
Dapat diukur oleh uang
Maka kamu terlalu mahal bagiku
13 September 2009, 00.00WIB
Sepi
Baru kali ini aku merasa kesepian
Dalam kesunyian kamarku
Padahal sebelumnya tidak
Bahkan alunan musik yang kudengarkan
Tak bisa menepis sepi ini
dalam selimut hangat pun
hanya kurasakan dinginnya sepi
Tanpa kawan maupun teman
Mungkin tak satupun kupunya
Kadang aku berpikir semuanya palsu
Sepi meraung tak terbendung
Aku merasa
Sesuatu di seberang sana
Menertawakanku, tersenyum dalam kesepianku
Sepi yang terus mengintaiku
Mencari kesempatan saat kulengah
Kamar, 13 September 2009
Dalam kesunyian kamarku
Padahal sebelumnya tidak
Bahkan alunan musik yang kudengarkan
Tak bisa menepis sepi ini
dalam selimut hangat pun
hanya kurasakan dinginnya sepi
Tanpa kawan maupun teman
Mungkin tak satupun kupunya
Kadang aku berpikir semuanya palsu
Sepi meraung tak terbendung
Aku merasa
Sesuatu di seberang sana
Menertawakanku, tersenyum dalam kesepianku
Sepi yang terus mengintaiku
Mencari kesempatan saat kulengah
Kamar, 13 September 2009
Egois
Liberalisme...
Hmm, Sebuah penyakit yang merebak...
Bukan itu sayang... Tak ada hubungannya
Manusia itu sebuah individu
Makanya ia sering memikirkan diri sendiri
Bebas kok...
Tidak ada yang melarangnya
Apa guna hidup jika hanya untuk diri sendiri?
Mereka bilang hidup itu untuk bekerja, mencinta, karena merdeka
Tak peduli untuk berguna
Hanya mereka yang sadar saja
Egois?
Hanya sebuah kata
Untuk mengungkap lemahnya manusia
Lihat saja, ke-egoisan manusia
Menyebabkan ia terkekang
Menjadi bingkai bagi diri sendiri
Jeruji besi itu menanti...
Ke-egoisanmu dan ke-egoisanku
Jogja, 13 September 2009
Hmm, Sebuah penyakit yang merebak...
Bukan itu sayang... Tak ada hubungannya
Manusia itu sebuah individu
Makanya ia sering memikirkan diri sendiri
Bebas kok...
Tidak ada yang melarangnya
Apa guna hidup jika hanya untuk diri sendiri?
Mereka bilang hidup itu untuk bekerja, mencinta, karena merdeka
Tak peduli untuk berguna
Hanya mereka yang sadar saja
Egois?
Hanya sebuah kata
Untuk mengungkap lemahnya manusia
Lihat saja, ke-egoisan manusia
Menyebabkan ia terkekang
Menjadi bingkai bagi diri sendiri
Jeruji besi itu menanti...
Ke-egoisanmu dan ke-egoisanku
Jogja, 13 September 2009
Pesan Selamat Malam
Suatu malam aku menerima sebuah pesan
"Malem...," itu saja
Ternyata dari kamu
Sahabatku...
Saudariku...
Aku mencoba membalasnya
Sayang, tak ada pulsa
Sialan...!
Mengapa harus pakai aneh-aneh segala?
Seminggu kemudian...
Aku sudah beli pulsa
Aku kirim pesan buatmu
Berharap kau pun tahu
"Message sending failed!" Keluar dari handphoneku
Apa-apaan ini?
Payah...
Cuma ingin membalas selamat malam aja repot
Aku pikir kartuku rusak
Mendingan pakai telepati aja. pikirku
Palingan kamu berpikir
bahwa aku sudah tak peduli padamu
meninggalkan semua janjiku
tak sudi jadi saudaramu
tak mungkin aku begitu
Entahlah...
Kata Putri memang ada error di operatornya
kurharap kau cemburu...
13 September 2009
"Malem...," itu saja
Ternyata dari kamu
Sahabatku...
Saudariku...
Aku mencoba membalasnya
Sayang, tak ada pulsa
Sialan...!
Mengapa harus pakai aneh-aneh segala?
Seminggu kemudian...
Aku sudah beli pulsa
Aku kirim pesan buatmu
Berharap kau pun tahu
"Message sending failed!" Keluar dari handphoneku
Apa-apaan ini?
Payah...
Cuma ingin membalas selamat malam aja repot
Aku pikir kartuku rusak
Mendingan pakai telepati aja. pikirku
Palingan kamu berpikir
bahwa aku sudah tak peduli padamu
meninggalkan semua janjiku
tak sudi jadi saudaramu
tak mungkin aku begitu
Entahlah...
Kata Putri memang ada error di operatornya
kurharap kau cemburu...
13 September 2009
Bandana Putih
Bandana itu masih ada di lemariku
Putih warnanya sesuai pesananmu
Waktu aku bawa, aku ingin berikan padamu
"Nia kemana om?" tanyaku pada ayahmu
"Pergi sama Galih, ke salon katanya!"
Padahal aku sangat ingin bersua
Dengan kawan lama
Yang dulu 3 tahun bersama
Sejak kenal dan mengena
Harapanku makan es gratis pupus sudah
Akupun membawa seorang kakak yang kau cari
Hendak bersua jua
Ya udah... Aku titip salam aja
Aku melihat bandana putih itu
Dari lubang di tasku
Kalasan, 11-13 September 2009
Putih warnanya sesuai pesananmu
Waktu aku bawa, aku ingin berikan padamu
"Nia kemana om?" tanyaku pada ayahmu
"Pergi sama Galih, ke salon katanya!"
Padahal aku sangat ingin bersua
Dengan kawan lama
Yang dulu 3 tahun bersama
Sejak kenal dan mengena
Harapanku makan es gratis pupus sudah
Akupun membawa seorang kakak yang kau cari
Hendak bersua jua
Ya udah... Aku titip salam aja
Aku melihat bandana putih itu
Dari lubang di tasku
Kalasan, 11-13 September 2009
Pahlawanku
Kau pertaruhkan nyawa bagiku
Bagi hidupku
Dari kulemah, sampai kugagah
Tak pantang menyerah,
dalam medan pertempuran
Dalam hidupku ini, kaulah pahlawan
Darah yang telah kau kucurkan bagiku
Akan selalu kuingat, sampai anak-cucumu
bahkan sampai akhir hayatku
Suatu saat...
Aku pun akan meninggalkanmu
Sama seperti...
Kau meninggalkan kedua orang tuamu
Tapi tetap, kau adalah pahlawanku...
Ayah dan Ibuku...
Kalasan, 13 September 2009
Bagi hidupku
Dari kulemah, sampai kugagah
Tak pantang menyerah,
dalam medan pertempuran
Dalam hidupku ini, kaulah pahlawan
Darah yang telah kau kucurkan bagiku
Akan selalu kuingat, sampai anak-cucumu
bahkan sampai akhir hayatku
Suatu saat...
Aku pun akan meninggalkanmu
Sama seperti...
Kau meninggalkan kedua orang tuamu
Tapi tetap, kau adalah pahlawanku...
Ayah dan Ibuku...
Kalasan, 13 September 2009
Tiga Belas
Orang bilang kau angka keramat
Bawa sial
Ditakuti orang-orang
Mengapa?
Padahal kau hanya sebuah angka
Terdiri dai satu dan tiga
Setahun ini aku mendapatkanmu
Tak kurasakan apa-apa
Mungkin kau hanya cerita belaka
yang membumbui dunia
Tapi aku tetap percaya
Bahwa kau berguna
Karena...
Kau adalah nomer absenku
XII S 1, De Britto, September 2009
Bawa sial
Ditakuti orang-orang
Mengapa?
Padahal kau hanya sebuah angka
Terdiri dai satu dan tiga
Setahun ini aku mendapatkanmu
Tak kurasakan apa-apa
Mungkin kau hanya cerita belaka
yang membumbui dunia
Tapi aku tetap percaya
Bahwa kau berguna
Karena...
Kau adalah nomer absenku
XII S 1, De Britto, September 2009
Penyusutan
Pagi ini aku belajar akuntansi
Menghitung berbagai angka
Yang mengecil, semakin turun semakin kecil
Namanya juga penyusutan
Aku mulai bertanya
Mengapa dompetku juga menyusut?
Ketika ku bersama wanita
Wanita memang perlu dicinta
Namun juga butuh biaya
Uang menunjukkan:
kepandaina, kelicikkan, dan usaha
Bagi pria, uang adalah hasil usaha
Apapun itu
Siapa wanita yang mau memanfaatkannya?
Hidup pun penyusutan
Umur manusia menyusut
Sampai habis... Ditelan waktu
De Britto, 14 September 2009
Menghitung berbagai angka
Yang mengecil, semakin turun semakin kecil
Namanya juga penyusutan
Aku mulai bertanya
Mengapa dompetku juga menyusut?
Ketika ku bersama wanita
Wanita memang perlu dicinta
Namun juga butuh biaya
Uang menunjukkan:
kepandaina, kelicikkan, dan usaha
Bagi pria, uang adalah hasil usaha
Apapun itu
Siapa wanita yang mau memanfaatkannya?
Hidup pun penyusutan
Umur manusia menyusut
Sampai habis... Ditelan waktu
De Britto, 14 September 2009
Sweater Biru
Sebuah sweater biru
Di lemari, berbau kapur barus
Tak terawat
Sobek lengan kirinya
Kuambil
Kubawa ke penjahit
Tak bisa diperbaiki katanya
Kembali kuberpeluh
Siang hari itu
Sweater kuletakkan
kulihat sweater itu
seakan menangis
dengan lengan kiri teriris
hatiku pun miris
Kuambil:
Kain jeans, benang biru, dan jarum
Kutambal sweater itu
Sekarang ia melekat di dadaku
Tersenyum
Kalasan, 14 September 2009
Di lemari, berbau kapur barus
Tak terawat
Sobek lengan kirinya
Kuambil
Kubawa ke penjahit
Tak bisa diperbaiki katanya
Kembali kuberpeluh
Siang hari itu
Sweater kuletakkan
kulihat sweater itu
seakan menangis
dengan lengan kiri teriris
hatiku pun miris
Kuambil:
Kain jeans, benang biru, dan jarum
Kutambal sweater itu
Sekarang ia melekat di dadaku
Tersenyum
Kalasan, 14 September 2009
Klimaks
Sepertinya aku harus membakar:
Puisi-puisiku...
Burung-burung kertasku...
Dan foto-fotomu...
Jln. Laksda Adisutjipto, 14 September 2009
Puisi-puisiku...
Burung-burung kertasku...
Dan foto-fotomu...
Jln. Laksda Adisutjipto, 14 September 2009
Buku Usang
sebuah buku usang
tergeletak di meja
lusuh dan berdebu
tapi terlihat baru
baru, karena belum dibaca
lama, karena berdebu
tapi jika tidak dibaca
percuma benda itu disebut buku
percuma orang menulis buku
jika tidak dibaca
buku sumber ilmu
ilmu untuk makan
makan untuk hidup
hidup untuk berguna
kesimpulannya
buku itu berguna
digunakan agar berguna
awas, ada buku sesat juga
dari penulis yang sesat
nabi palsu bagi hidupmu
namun buku usang itu
tetap tergeletak dimeja...
De Britto, 14 September 2009
tergeletak di meja
lusuh dan berdebu
tapi terlihat baru
baru, karena belum dibaca
lama, karena berdebu
tapi jika tidak dibaca
percuma benda itu disebut buku
percuma orang menulis buku
jika tidak dibaca
buku sumber ilmu
ilmu untuk makan
makan untuk hidup
hidup untuk berguna
kesimpulannya
buku itu berguna
digunakan agar berguna
awas, ada buku sesat juga
dari penulis yang sesat
nabi palsu bagi hidupmu
namun buku usang itu
tetap tergeletak dimeja...
De Britto, 14 September 2009
Senyummu
Teringat aku akan dirimu
Ketika aku bertengger diatas sepeda merahku
Mencium wangimu nan harum
Mencumbui bayangmu
Rambut lurusmu, terikat rapi
Buatku tersipu
Saat kuraba telapak tanganmu
Kulihat senyummu, begitu tulus bagiku
Lembut matamu, buatku melayang
Dalam hatiku kau selalu kurindu
Meski 3 tahun sudah aku tak melihatmu
Tetap kau kunanti, di gereja ini
Yang selalu mengingatkanku pada,u dan senyummu
Meski aku tahu kau sudah menemukan tambatan hatimu
Aku akan terus bahagia, memutar memoriku akanmu
Senyummu, awet dalam anganku
16 September 2009
00.25
Ketika aku bertengger diatas sepeda merahku
Mencium wangimu nan harum
Mencumbui bayangmu
Rambut lurusmu, terikat rapi
Buatku tersipu
Saat kuraba telapak tanganmu
Kulihat senyummu, begitu tulus bagiku
Lembut matamu, buatku melayang
Dalam hatiku kau selalu kurindu
Meski 3 tahun sudah aku tak melihatmu
Tetap kau kunanti, di gereja ini
Yang selalu mengingatkanku pada,u dan senyummu
Meski aku tahu kau sudah menemukan tambatan hatimu
Aku akan terus bahagia, memutar memoriku akanmu
Senyummu, awet dalam anganku
16 September 2009
00.25
Gerimis di Tengah Malam
Merajami tubuhku dengan dinginmu
Menyayat wajahku bagai tarian belati
Tetesmu getarkan tubuhku
Menggigil tanda bernyawa
Tabrakan berulang gigi-gigiku
di tengah malam ini
Dalam deru mesinku
Aku berlari darimu
Tapi kau tetap mengejarku
Menyerangku dengan berjuta peluru
Cepatku berpacu, masih kalah di banding derasmu
Deras yang buatku tersadar
Bahwa aku harus ganti baju
Hujan mengingkari janjinya
Gerimis pun reda
Ruko yang basah
16 September 2009
00.23
Menyayat wajahku bagai tarian belati
Tetesmu getarkan tubuhku
Menggigil tanda bernyawa
Tabrakan berulang gigi-gigiku
di tengah malam ini
Dalam deru mesinku
Aku berlari darimu
Tapi kau tetap mengejarku
Menyerangku dengan berjuta peluru
Cepatku berpacu, masih kalah di banding derasmu
Deras yang buatku tersadar
Bahwa aku harus ganti baju
Hujan mengingkari janjinya
Gerimis pun reda
Ruko yang basah
16 September 2009
00.23
Kipas Angin
Siang maupun malam
Tidak bosan-bosannya kau meniupku
Meniupkan anginmu di tiap lekuk wajahku
Asalkan aliran lisrik masih memasukimu
Kau akan terus meniupkan anginmu
Memutar kincirmu
Tapi akankah engkau tau
karenamu...
Terpaksa ibuku melukiskan
tulang ikan di punggungku
Merah warnanya, harum baunya,
hangat rasanya
Oh, kipas anginku
Anginmu menyejukkanku
Disaat panas menarik keringatku
Tetaplah bersamaki
Sampai pada akhirnya
Putaran waktu itu menghentikanmu
Jogja, 16 September 2009
00.30 WIB
Tidak bosan-bosannya kau meniupku
Meniupkan anginmu di tiap lekuk wajahku
Asalkan aliran lisrik masih memasukimu
Kau akan terus meniupkan anginmu
Memutar kincirmu
Tapi akankah engkau tau
karenamu...
Terpaksa ibuku melukiskan
tulang ikan di punggungku
Merah warnanya, harum baunya,
hangat rasanya
Oh, kipas anginku
Anginmu menyejukkanku
Disaat panas menarik keringatku
Tetaplah bersamaki
Sampai pada akhirnya
Putaran waktu itu menghentikanmu
Jogja, 16 September 2009
00.30 WIB
Subscribe to:
Posts (Atom)
