Sekarang sudah bukan jamannya
Seorang pria berpuisi
Mencari arti dan bermimpi
Sekarang jarang
Wanita suka puisi
Mereka anggap sia-sia pikirku
kata-kata belaka
indah tak mengena
Aku bingung
Hanya bisa bermain kata-kata
Namun aku sadar
Ia pun tak peduli pada ku, maupun puisiku
Siapa bilang pria tak boleh berpuisi?
Siapa bilang pria tak pantas bersyair?
Siapa bilang pria berperasaan dangkal?
Siapa bilang pria tak boleh menangis?
Aku heran dan hanya bisa bernyanyi
Sambil memetik gitar mengalunkan melodi dan harmoni
Dunia sudah berubah nak...
Kalau tak punya uang, tak usahlah kau bercita
bahkan berharap untuk mencinta
Aku ingin mencinta...
Sayang tak dicinta...
Mengapa? Mengapa dia?
Mengapa harus dia? Mengapa hanya dia?
Ah... Masa bodoh
Aku melanjutkan puisi ini
Puisi yang mungkin tak berarti baginya
Puisi yang bahkan tak akan menyentuh bulu hatinya
karena aku bukanlah lelaki yang ia impikan
meski aku belum bilang bahwa aku mencintainya
setulus hati merpatiku...
semurni air dalam gelas bening di mejaku
Kadang aku berpikir
Segala yang kuberikan padanya
sia-sia tanpa guna
Pergilah ia pada kekasihnya
Namun bukan aku sayang
Air mataku mulai meleleh
terjawab sudah
bahwa aku adalah...
Seorang pria berpuisi
23.59WIB, Kamar, 12 September 2009
Wednesday, September 16, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment