Wednesday, September 16, 2009

Kipas Angin

Siang maupun malam
Tidak bosan-bosannya kau meniupku
Meniupkan anginmu di tiap lekuk wajahku
Asalkan aliran lisrik masih memasukimu
Kau akan terus meniupkan anginmu
Memutar kincirmu

Tapi akankah engkau tau
karenamu...
Terpaksa ibuku melukiskan
tulang ikan di punggungku
Merah warnanya, harum baunya,
hangat rasanya

Oh, kipas anginku
Anginmu menyejukkanku
Disaat panas menarik keringatku
Tetaplah bersamaki
Sampai pada akhirnya
Putaran waktu itu menghentikanmu

Jogja, 16 September 2009
00.30 WIB

No comments:

Post a Comment